Search
Archives

Pra Menstruasi Sindrom

Pengertian Pra Menstruasi Sindrom

Sindrom pra menstruasi merupakan kumpulan gejala yang muncul antara 1 hingga 14 hari sebelum masa menstruasi dan biasanya berhenti saat menstruasi mulai. Gejala tersebut dapat meliputi keluhan fisiologis yang menyerang segala sistem tubuh maupun gejala psikologis yang mencetuskan masalah mental dan emosional. PMS terutama sering terjadi pada wanita dlam rentang usia kehamilan, yaitu antara 25-45 tahun. PMS memang merupakan kumpulan gejala akibat perubahan hormonal yang berhubungan dengan siklus saat ovulasi (pelepasan sel telur dari ovum) dan haid. Sindrom itu akan menghilang pada saat menstrusi dimulai sampai beberapa hari setelah selesai haid (Hembing 2008).

Etiologi

Penyebab munculnya sindrom ini belum jelas diketahui. Beberapa teori menyebutkan antara lain karena faktor hormonal yakni ketidakseimbangan antara hormon esterogen dan progesteron. Teori lain menyatakan, karena hormon esterogen yang berlebihan. Para peneliti melaporkan, salah satu kemungkinan yang kini sedang diselidiki adalah adanya perbedaan genetik pada sensitivitas reseptor dan sistem pembawa pesan yang menyampaikan pengeluaran hormon seks dalam sel (Irwansyah 2010).

Gejala

Gejala psikologis : meliputi perubahan tingkah laku atau personalia seperti perasaan sensitif, mudah tersinggung atau marah, cemas, kegelisahan, gampang menangis, suasana hati tidak nyama, kelelahan, depresi, iritabilitas, kurang percaya diri, gugup, bingung, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, dan perubahan nafsu seksual.

Gejala fisik : payudara terasa sakit dan membengkak, perut kembung, kram perut dan mual, sakit punggung, nyeri sendi, pegal dan leher tegang, sakit kepala, timbul jerawat, detak jantung tidak teratur dan berdebar-debar, sesak nafas, diare atau sembelit, keranjingan makanan biasanya terhadap makanan asin atau gurih (Hembing 2008).

Tipe

PMS tipe A (anxiety)

PMS tipe H (hyperhydration)

PMS tipe C (cravining)

PMS tipe D(depression)

Pencegahan

1.    Batasi konsumsi makanan tinggi gula, tinggi garam, daging merah, alkohol, kopi, teh, coklat, serta minuman bersoda.

2.    Kurangi rokok atau berhenti merokok.

3.    Batasi konsumsi protein (sebaiknya 1,5 gr/kg berat badan)

4.    Meningkatkan konsumsi ikan, ayam, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

5.    Batasi konsumsi makanan produk susu dan olahannya

6.    Batasi konsumsi lemak dari bahan hewani dan lemak dari makanan yang digoreng.

7.    Meningkatkan konsumsi sayuran hijau.

8.    Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung asam lemak esensial linoleat seperti minyak bunga matahari, minyak sayuran.

9.    Konsumsi vitamin B kompleks terutama vitamin B6, vitamin E, kalsium, magnesium juga omega-6.

10.  Melakukan olahraga dan aktivitas fisik secara teratur.